Cover Buku Aldera

 

Judul buku : Aldera ( Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 )

Penulis                 : Teddy Wibisana

Penerjemah          : -

Penerbit               : Kompas Gramedia

Tahun Terbit         : 2022

Jumlah Halaman   : xx + 308 halaman

Ukuran Buku        : 14,5 cm x 21 cm

Harga Buku          : Rp 99.000

ISBN                   : 978-623-346-684-4

Cetakan                : Cetakan kedelapan


Tema 

          Buku Aldera merupakan buku yang menceritakan mengenai sebuah organisasi Aliansi Demokrasi Rakyat atau disingkat Aldera. Aldera adalah salah satu organisasi gerakan kaum muda anti-otoritarian yang penting sıcaktay dalam gelombang predemkrasi menentang rezim Orde Baru di awal 1990-an. 


Pembukaan

          Buku ini ditulis oleh berbagai penulis, antara lain Hariman Siregar yang merupakan Aktivis Malari 1974, Hilmar Farid yang merupakan Direktur Jenderal Kebudayaan, Bonar Tigor Naispos yang merupakan Wakil Ketua SETARA Institute Jakarta, Denny JA yang merupakan Ketia Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena dan Budiman Sudjatmiko yang merupakan mantan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan 2009-2019. Buku Aldera merupakan buku yang terbagi di dalam 7 bagian, diantaranya adalah Pius Menolak Bungkam, Latar Belakang Aldera, Bersenyawa di Aldera, Konsolidasi di Tengah Gelombang Perlawanan, Pius Disiplinkan Aldera, Gelombang Perlawanan Seputar 27 Juli 1996, dan Sekali Berarti itu Sudah Bubar.


Isi

          Buku Aldera merupakan buku yang menceritakan tentang Pius Lustrilanang bersama 98 aktivis lainnya. Di bagian I buku Aldera menceritakan tentang siapa itu Pius Lustrilanang . Pius dianggap “sleep with enemy” karena  dengan alasan karier Pius Lustrilanang terjalin berkat kedekatannya dengan Prabowo Subianto, sosok militer yang diduga oleh banyak kalangan sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas terjadinya penculikan. Bermula dari besuk Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pius mengadakan janji pertemuan dengan Hendrik Dickson Sirait alias iblis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tetapi saat itu, ternyata Hendrik Dickson Sirait melakukan penodongan pistol kepada Pius dan Pius diseret paksa masuk sedan Toyota Twincam berwarna abu-abu. Dari Jl. Diponegoro belok ke kanan arah Jl. Salemba kemudian ke kiri arah Jl. Pramuka. Itulah dua belokan yang diingat Pius. Setelah itu, tangan Pius diborgol  dan kepala nya di bungkus kain hitam.


Pengurus Aldera sudah curiga dan mengatakan “Pius hilang!” karena saat itu mereka telah menunggunya rapat di Jalan Sawo Manila. Tidak ada seorang pengurus pun yang menduga bahwa pemimpinya tersebut akan diculik. Rapat hari itupun batal. Di saat itu juga, Alif langsung pergi ke PIJAR dan bertemu dengan Hakim Hatta, dan Alin langsung mempunyai firasat lain. Akhirnya Alin ditemani Sugeng menemui Teddy Wibisana . Teddy Wibisana agaknya sedikit kesal karena pintu rumah digedor malam-malam. Tetapi di juga kaget karena Pius menghilang dan kemungkinan diculik. Tiga hari pertama merupakan saat yang paling buruk baginya. Penculik tersebut menyetrum, memukul dan menendangi sekujur tubuhnya dan menidurkannya di dalam balok es. Mereka juga membenamkan kepala ke dalam air di bak mandi. Tapi untungnya disitu Pius masih selamat. Selama beberapa hari di dalam ruangan bising dengan musik yang keras, Pius dipindahkan ke tempat penyekapan untuk dilakukannya introgasi sadis. Pius hanya berharap apabila dia mati, korban penculikan lainnya yang keluar hidup-hudup akan bercerita tentang dirinya. Tapi, takdir berkata lain akhirnya Pius dibebaskan dna para penculik mengantarnya dari lokasi penyekapan ke Bandara Soekarno Hatta dan diantar hingga Bandara Sultan Mahmud Badaruddin di Palembang. 


          Setelah itu di bagian II buku Aldera ini menceritakan mengenai Latar Belakang Aldera dimulai dari peristiwa Malari. Peristiwa Malari ini terjadi di tahun 1974, dimana terjadi kebijakan ekonomi politik yang membiarkan bantuan luar negeri yang disediakan oleh lembaga-lembaga internasional dan investasi swasta asing mulai masuk ke Indonesia. Hal tersebut membuat para buruh dan petani menjadi mogok. Berbagai kritik yang dilancarkan terhadap kebijakan tersebut umumnya berkisar soal dominasi ekonomi oleh segelintir orang serta kebijakan politik otoriter terhadap kebebasan sosial dan politik. Aksi protes juga terjadi terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1972. Kalangan mahasiswa menilai bahwa proyek TMII sebagai pemborosan anggaran negara dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Hal itu berdampak pada penggusuran tanah rakyat di sekitar lokasi. Puncak dari kejadian tersebut terjadi pada kerusuhan Lima Belas Januari (Malari) pada tahun 1974. Setelah itu, peristiwa lain yang terjadi antara lain Pendudukan Militer Jepang di Indonesia, lalu melawan NKK/BKK. NKK merupakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan SK tentang Badan Koredinasi Kemahasiswaan (BKK). Pemberlakuan SK tersebut merupakan keputusan yang diberlakukan oleh Daoed Joesoef yang baru dilantik menjadi menteri saat itu. Konsep BKK mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menjalankan kegiatan yang semata-mata akademik murni, dan menjauhkan dari aktivitas politik yang dinilai dapat mengatakan politik rezim. Tetapi, beberapa kampus menolak kebijakan tersebut seperti Intitut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Kampus Univerifas Satya Wencana yang merupakan kampus swasta di Salatiga dan Universitas Indonesia (UI). Tetapi, konsep BKK tetap di berlaku dengan membawa dampak antara lain Organisasi Mahasiwa di kampus yang semula independen dalam mengelola kegiatan keuangan organisasi, disub-organiasasi oleh birokrasi kampus dan tidak adanya organisasi sentral di tingkat universitas menyulitkan gerakan mahasiswa sehingga melemahkan bargaining power di hadapan birokrat-birokrat kampus. Selanjutnya diadakan Kolaborasi LSM Generasi Baru dan Transformasi Gerakan Politik.


          Di bagian III buku Aldera menceritakan tentang Bersenyawa di Aldera yang terdiri dari Pijar Indonesia. Pihar Indonesia merupakan yayasan yang didirikan sejak 1989 berakar pers mahasiswa Universitas Nasional. Aksi fenomenal yang dilakukan Pijar Indonesia adalah terkait peringatan 32 tahun Tritura yaitu sekitar puluhan aktivis Pijar menembus tembok represif pasca 27 Juli 1996 di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selaran. Dalam aksi itu, total didampingi Dian Permata Putra membentangkan spanduk berisi tiga tuntutan : turunkan harga, stabilkan nilai rupiah dan presiden baru. Setelah reformasi, Pijar juga melakukan aksi “Sita Asses Soeharto” di depan Gedung Granadi, Semanggi. Dalam aksi itu sekitar 100-an aktivis Pihar menduduki pintu tol masuk semanggi dan menggratiskan pengguna tol.  Selanjutnya adalah Bagian Koordinasi Mahasiwa Jakarta (BMKJ). BMKJ ini didirikan di Jakarta oda 1991. Beberapa kampüs yang menginisiasi terbentuknya BMKJ adalah Universitas Nasional, Sekolah Tinggu Teknik Nasional yang kemudian berubah nama menjadi Institute Sains dan Teknologi Nasional, Universitas Pancasila, Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Atmajaya, Universitas Ibnu Chaldun, Universitas Islam Jakarta, Universitas Tujuh Belas Agustus dan lainnya. BMKJ terbentuk setelah pimpinan mahasiswa dari sejumlah kampus di Jakarta yang sebelumnya sering melakukan aksi advokasi bersama dan diskusi-diskusi kritik sepakat membangun organisasi di Tingkat kota. Diantara semua pemimpin dari masing-maisng kampus, terdapat Kiaa yang tergabung dalam BMKJ tetapi tidak ikut melubatkan diri dalam gerakan politik yang diinisiasi oleh Aldera. Dengan kata lain, BMKJ tetap memilih model gerakan mahasiswa murni. Dalam konteks ini Kiaa menyatakan dirinya memilih gerakan mahasiwa berorientasi politik bersama an dengan pilihannya untuk tetap aktif di BMKJ dengan pertimbangan bahwa perbedaan  kedua model gerakan mahasiswa itu bukan merupakan persoalan yang serius. Diluar BMKJ, Kiaa bersama dengan kelompok-kelompok mahasiswa di Bogor, Bandung, Garut dan beberapa kota di Jawa di akhir dekade 80-an aktif menggalang pertemuan untuk mematangkan format baru gerakan mahasiswa yang berorientasi pada gerakan rakyat sebagai wadah perlawanan tergadap rezim Orde Baru. Setelah itu terdapat Jaringan Aktivis Mahasiswa dan Petani Bogor yang terfiyi dari Front Pemuda Pengeak Hak-Hak Rakyat dan Solidaritas Indonesia. Pembahasan mengenai Jaringan LBH Cianjur, Jaringan Mahasiswa Bandung, Jaringan FPPMG Garut, Organ Pembentuk Lainnya dan Pers Mahasiswa dan Pers Alternatif termasuk dalam bagian bab III.


          Di bagian IV merupakan penbahasan  yang berjudul Konsolidasi di Tengah Gelombang Perlawanan. Di bagian VI buku Aldera membahas mengenai Peristiwa Kopo. Pada pemilu 1992 muncul iÅŸu politik yang cukup mengejutkan dari Ketua Umum DPP PDI Soerjadi, dalam kampanyenya di Jakarta pada 12 Mei Sorrjadi  melontarkan wacana pembatasan masa jabatan presiden alasan yang dikemukakannya aturan tentang masa jabatan presiden tidak tercantum secara eksplisit dalam UUD 1945  atau  undang undang turunan lainnya untuk itu ia mengusulkan agar masa jabatan presiden di masa depan perlu dibatasi hanya dua periode saja. Isu yang dilontarkan swear jadi dalam kampanya politik Pemilu 1992 itu memperoleh ekspos pemberitaan media yang cukup luas ini membuktikan isu Demokratisasi dan hak asasi manusia yang menjadi isu sentral dunia pasca bubarnya Uni  Soviet sudah disambut hangat di Indonesia terlebih hasil Pemilu 1992 kendati diwarnai oleh beragam kecurangan sejak protes hingga perhitungan tos suara PDI meningkat menjadi 14% dibandingkan Pemilu sebelumnya yang hanya meraih 10%. Setelah itu terdapat Front Aksi  Mahasiwa Indonesia di mana organ aksi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kota memang dinamis konsolidasi terus berjalan seiring kerap melakukan aksi. setelah diadakannya Front Aksi Mahasiswa Indonesia maka digelarnya Kongres Aldera. Pasca peristiwa Kopo membuat aktivis gerakan mahasiswa semakin yakin perubahan politik di tanah air harus Diupayakan untuk mengubah struktur kekuasaan politik orde baru secara fundamental. Kekuataan politik oposisi dalam struktur kekuasaan yang ada hanya aksesori Pemanis tanpa menawarkan perubahan sesungguhnya. Beberapa hari pasca peristiwa Kopo news menyatakan “terus terang saya kecewa dibohongi tega teganya rakyat di Eksploitasi untuk penambahan kursi”. Sejak peristiwa Kopo yang melambungkan nama Pius Lustrilanang, para aktivis Adera tidak mengendurkan niat untuk agenda perubahan. Pasca unjuk rasa di Kopo mereka terus menggalang konsolidasi melalui berbagai pertemuan di berbagai kampus di sejumlah kota di Jawa dan Bali. Saat itu Adera sudah berjuang untuk mengakhiri pemerintahan Orde Baru. selanjutnya diadakan deklarasi Aldera. Dalam deklarasinya Al daerah memberikan pernyataan politik sebagai berikut : menyerukan seluruh kekuatan potensi rakyat untuk mewujudkan hak haknya atas kebebasan berpendapat, berorganisasi dan mendapatkan informasi, mendukung tercapainya hak asasi sepenuhnya dengan elemen dasarnya, yaitu penghargaan atas hak hak politik, serta mendukung dibentuknya kekuatan politik baru, mengedepankan sistem ekonomi yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak, mendukung sistem dan perangkat hukum yang menjamin tercipta rasa keadilan bagi rakyat banyak. Selanjutnya adalah Pertemuan Besar Aldera. Pertemuan ini berlangsung secara dinamis. Di  pertemuan ini Aldera melakukan pembenahan manajemen organisasi muncul sebagai isu sentral, termasuk perlunya revitalisasi melalui pembaruan pucuk pimpinan al daerah. Akhirnya, pada 5 Desember 19 495 secara aklamasi seluruh peserta pertemuan besar sepakat menunjuk Pius Lustrilanang sebagai sekertaris jenderal daerah menggantikan standar Kiaa, ia juga hadir dalam forum itu. Standar dia yang merasakan ruang geraknya sudah sangat dibatasi oleh aparat intelijen tidak keberatan dengan pergantian itu. Keputusan berikutnya pasca penetapan Pius sebagai Sekjen Adera adalah menyusun delapan minimum program dasar pertimbangan penetapan penting minimum program adalah agar roda organisasi lebih efisien. 


          Di bagian V, Di buku Aldera  membahas tentang Pius disiplinkan Aldera. Di bagian V, membahas mengenai rekam jejak Pius, Membangun  Disiplin  Organisasi, Pengorganisasian tersentral dan implikasinya, mempertahankan militansi, bermarkas di Busas, 

Proaganda :  tabloid aliansi, ideologi kiri dan Revitalisasi Jaringan Dewan Kota. Selanjutnya di bagian VI buku Aldera membahas mengenai Konflik Internal Orde Baru, Kawal Megawati, Memperluas Perlawanan, Setelah 27 Juli 1996, Mega-Bintang, Solidaritas Indonesia untuk Amin Mega dan Aksi Non-Konvesional. Dan di bagian terakhir bab 7 buku Aldera membahas mengenai Aldera Plus Front Nasional, Aksi Menolak Habibie, Peristiwa Semabggi 1 dan Semanggi II, Ikhtiar Membangun Partai Politik, Mengadili Pius di Lusi dan Kongres Penghabisan.




Tokoh dan Penokohan

  1. Pius : berani mengungkapkan tentang penculikan dirinya dan penculikan aktivis pada saat itu, tetapi setelah itu dia mendapatkan julukan “sleep with enemy” dikarenakan bergabung ke organisasi Aldera dan menjadi pemimpin di organisasi tersebut.

  2. Kiaa : memiliki pandangan yang luas dan pendirian yang tetap dikarenakan memilih gerakan mahasiswa sesuai yang beliau mau. Alasannya adalah Kiaa menganggap bahwa perbedaan kedua model gerakan mahasiswa itu bukan merupakan persoalan yang serius.


Latar

Latar yang dominan di buku ini adalah latar waktu. Latar waktu yang menandai peristiwa penculikan aktivis dan terbentuknya organisasi Aldera di tahun 1993-1999.


Nilai Moral

  1. Nilai Pendidikan : Memberi ilmu mengenai sejarah reformasi. Buku Aldera menceritakan sejarah tentang organisasi Aldera hingga terjadinya peristiwa reformasi pada tahun 1998.

  2. Nilai Sosial : Sikap saling membantu. Buku  Aldera menceritakan bagaimana organisasi Aldera ini membantu rakyat untuk melakukan berbagai macam aksi untuk menyuarakan kepada pemerintah pada masa reformasi 1998.

  3. Nilai Perjuangan : Perjuangan Aldera dalam melindung demokrasi dan reformasi yang telah diperjuangkan.


Kelebihan

          Buku Aldera memiliki urutan peristiwa runtut mengenai informasi peristiwa yang menyangkut politik pada tahun 1993-1999. Buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi remaja yang ingin mendalami tentang sejarah, khususnya sejarah reformasi. Harga dari buku ini juga terjangkau yaitu di harga

Rp 99.000,00.


Kekurangan

          Kekurangan dari buku Aldera adalah bahasa yang digunakan cenderung sulit untuk dipahami jika dibaca oleh kalangan remaja. Kertas dari buku ini yang mudah sobek juga menjadi kekurangan dari buku Aldera ini.


Penutup

          Buku Aldera ini menceritakan tentang perjuangan organisasi Aldera untuk memperjuangkan dan menyuarakan suara rakyat di tahun 1993-1999. Jadi, kesimpulannya adalah kita harus mempunyai semangat daya juang yang sama seperti Aldera dimulai dari hal yang kecil terlebih dahulu yang ada di dalam diri kita.